Image

okezone.com

Back to Okezone
14 November 2017 11:10 WIB #1
24 0 Bookmark
Join Date: 28 September 2017
Post: 35

Angina Pectoris; Gejala, Penyebab dan Penanganan

Angina pectoris  mengacu pada kondisi di mana area dada tiba-tiba terasa nyeri. Penyebabnya? Tidak lain karena berkurangnya aliran darah yang mengalir ke otot jantung.

GoDok- Pernahkah Anda mengalami kondisi di mana dada tiba-tiba terasa nyeri seperti ditekan atau diperas? Dalam dunia medis, kondisi tadi dikenal dengan istilah ‘angina pectoris’. Apa itu angina pectoris; dan bagaimana cara menanganinya? Simak penjelasan lengkap khas Go Dok berikut ini!

Mengenal Angina pectoris 

Sejatinya, istilah angina pectoris –berasal dari bahasa Yunani- mengacu pada kondisi di mana area dada tiba-tiba terasa nyeri. Penyebabnya? Tidak lain karena berkurangnya aliran darah yang mengalir ke otot jantung. Meskipun bukan termasuk jenis penyakit, namun kondisi ini nyatanya merupakan gejala penyakit  jantung koroner yang harus diwaspadai.

Berdasarkan jenisnya dibagi menjadi:

  1. Angina Pectoris Stabil; pasien dengan angina jenis ini dapat memprediksi sendiri aktivitas apa saja yang dapat memicu nyeri dada.
  2. Angina Pectoris Tidak Stabil; jenis ini dicirikan oleh pola nyeri yang berubah-ubah, tiba-tiba, dan cenderung meningkat intensitasnya tanpa ada faktor pemicu yang pasti.
Gejala

Satu hal yang perlu diwaspadai dari kondisi ini adalah bahwa gejalanya sangatlah saru dengan penyakit lain, khususnya gangguan sistem pencernaan yang banyak menyerang lambung  -organ yang notabene terletak di sekitar ulu hati atau dada kiri.

Lantas, apa saja gejalanya yang harus diwaspadai? Berikut penjabaran lengkapnya:

– Gejala yang khas, yaitu nyeri di dada seperti ditekan atau tertindih barang berat. Lebih lanjut, gejala ini juga biasanya diiringi oleh keluhan lain, semisal rasa tidak nyaman di bagian punggung, leher, rahang, perut atas; atau bahkan mati rasa di bagian lengan dan tangan.

– Gejala tidak khas, yaitu:

  • Nafas pendek dan terasa sesak
  • Mual; kadang disertai muntah
  • Sakit kepala ringan
  • Detak jantung tidak beraturan
  • Tubuh terasa lemah
Penyebab 

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, angina pectoris disebabkan oleh berkurangnya suplai darah ke otot jantung (ischemia). Umumnya, kondisi ini dipicu oleh munculnya atheroma –lapisan lemak atau plak yang terbentuk akibat menumpuknya kolesterol di dalam lapisan dalam pembuluh darah.

Lantas, mengapa angina pectoris umumnya ditandai oleh nyeri di bagian dada? Singkatnya, nyeri merupakan respons jantung terhadap terbatasnya pasokan darah; padahal, darah harus disebarkan ke seluruh anggota tubuh, terlebih jika Anda sedang melakukan akitivitas berat -semisal berolahraga atau naik/turun tangga.

Diagnosis dan Pemeriksaan

Untuk mendiagnosa kondisi pasien, dokter umumnya akan melakukan beragam tahap pemeriksaan; mulai dari pemeriksaan gejala & riwayat medis pasien, pengecekan kondisi tiroid atau ginjal, pemeriksaan fisik (termasuk tes untuk mengukur mengukur tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar gula darah), hingga EKG.

 Jika hasil EKG masih dirasa kurang komprehensif, maka dokter dapat menyarankan pemeriksaan lain, seperti:

  • EKG Stress Test; ditujukan untuk memeriksa aktivitas jantung saat pasien beristirahat dan saat berolahraga menggunakan treadmill.
  • Pemeriksanan Ultrasonografi Jantung (Echocardiographic); dengan menggunakan gelombang ultrasound, kondisi jantung pasien akan diukur dan diperiksa.
  • MRI Jantung; ditujukan untuk memeriksa jantung saat organ ini bekerja di bawah tekanan.
  • Kateterisasi dan Angiography; dilakukan dengan cara menyuntikkan zat kontras ke arteri koroner. Lantas, zat tadi akan ditelaah dengan menggunakan peralatan sinar-X khusus sehingga struktur arteri & lokasi hingga tingkat keparahan penyempitan bisa terlihat.
  • Miocard Perfusion Scan; dengan menyuntikkan senyawa radiokatif dalam dosis kecil, dokter dapat mendiagnosa angina dengan lebih tepat.
Faktor-Faktor Risiko 

Berikut beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena angina pectoris:

  • Merokok
  • Kadar kolesterol yang tidak terkontrol
  • Jarang berolahraga
  • Punya riwayat hipertensi dan/atau diabetes
  • Kelebihan berat badan (Body Mass Index (BMI) >30)
  • Sering mengonsumsi alkohol, kokain, atau obat terlarang sejenis.

Disamping faktor risiko, kondisi ini  juga dapat dipicu oleh:

  • Stres emosional
  • Cuaca yang terlalu dingin atau terlalu panas
  • Konsumsi makanan tertentu.
Penanganan

Dalam menghadapi kasusnya, dokter dapat menyarankan langkah-langkah pengobatan berikut ini:

1. Terapi obat-obatan

  • Glyceryl trinitrate (GTN); biasanya berbentuk obat tablet atau semprot, GTN bekerja dengan cara merelaksasi pembuluh darah agar beban kerja jantung berkurang dan aliran darah ke ototnya dapat berjalan lebih optimal. Jika Anda termasuk individu yang memiliki riwayat kondisi ini, maka dianjurkan untuk selalu membawa obat ini bersama Anda. Jika dosis pertama tidak bekerja, minum dosis kedua setelah lima menit. Jika rasa sakit terus berlanjut selama 10 menit , maka segeralah berobat ke rumah sakit terdekat.
  • Statin; jenis obat yang berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol darah dengan cara memblokir enzim
  • Aspirin, atau obat antiplatelet lainnya; obat jenis ini terbukti efektif untuk mengurangi risiko serangan jantung (myocardial infarction) yang disebabkan oleh bekuan darah yang terbentuk di arteri koroner.
  • Beta-blocker; digunakan untuk memblok adrenalin (epinefrin) yang dapat meningkatkan laju dan kekuatan detak jantung saat Anda cemas. Selain itu, obat jenis ini juga memberikan efek perlindungan pada otot jantung sehingga dapat mengurangi risiko komplikasi.
  • ACE Inhibitor; berfungsi untuk mencegah penumpukan cairan, cara kerja obat ini adalah dengan mengganggu enzim angiotensin yang terlibat dalam pengaturan cairan tubuh.
  • Calcium Channel Blocker; bekerja dengan cara mengendurkan arteri koroner untuk meningkatkan aliran darah sekaligus mengurangi denyut jantung saatpasien beristirahat dan/atau beraktivitas.

 2. Perubahan Gaya Hidup

Selain dengan terapi obat-obatan, angina pectoris juga dapat ditangani dengan perubahan gaya hidup yang meliputi:

  • Berhenti merokok
  • Rutin memeriksakan tekanan darah.
  • Menurunkan berat badan (khusus bagi pasien dengan berat badan berlebih).
  • Memeriksa kadar kolesterol Anda secara teratur, minimal 6 bulan sekali. Selain itu, Anda juga disarankan untuk menjalani medical check uplainnya, seperti pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, dsb (minimal 1 tahun sekali).
  • Berolahraga minimal tiga kali dalam seminggu (±30 menit).
  • Mengatur pola makan dengan banyak mengonsumsi bauh dan sayur-sayuran, menghindari makanan berlemak (daging berlemak, keju, susu full cream, gorengan, mentega,dsb).
  • Membatasi asupan garam dan alkohol.

3. Tindakan Medis

Tindakan medis dilakukan hanya jika obat-obatan sudah tidak dapat menolong pasien dan plak pada pembuluh darah semakin parah. Berikut jenis tindakan medis yang dimaksud:

  • Angioplasty

Hanya dilakukan jika ada arteri pendek yang menyempit. Prosedur pelaksanaannya meliputi langkah memasukkan sebuah kawat kecil dengan balon ke dalam arteri besar di selangkangan atau lengan. Kemudian, kawat akan diteruskan ke jantung dan masuk ke bagian arteri koroner yang menyempit. Balon kemudian diledakkan di bagian arteri yang menyempit demi  membukanya lagi. Barulah cincin/stent dipasang agar arteri tetap terbuka

  • CABG (Coronary Artery Bypass Graft)

Sejatinya, CABG merupakan operasi  untuk memotong bagian arteri. Tujuannya tidak lain adalah demi mencangkokkan pembuluh darah sehat yang diambil dari bagian tubuh lain agar darah dapat lebih lancar masuk ke otot jantung.


Sumber: www.go-dok.com

Share :