Image

okezone.com

Back to Okezone
15 June 2018 11:42 WIB #1
1971 2 Bookmark
Join Date: 31 May 2018
Post: 14

Tradisi Galak Gampil Saat Lebaran

Tradisi galak gampil menjadi momen yang paling ditunggu oleh anak-anak di Hari Raya Idul Fitri. Sebab, di hari itu mereka akan berpeluang mendapatkan banyak uang, seperti yang tidak bisa mereka rasakan di hari biasanya.

Galak gampil bisa dibilang adalah tradisi orang Indonesia, termasuk orang-orang Malang. Wujudnya biasanya berupa uang dengan pecahan yang tergantung selera. Uang galak gampil biasa diberikan orang dewasa kepada mereka yang usianya lebih muda. Uang tersebut diberikan kepada keluarga atau pun anak-anak yang berkunjung ke rumah untuk bersilaturahmi di hari lebaran. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur, sekaligus berbagi rezeki dan kebahagiaan di hari yang fitri.

Kebanyakan orang-orang memakai uang baru sebagai galak gampil. Alasannya cukup simpel, karena uang baru lebih disukai anak-anak. Uang yang masih mulus tanpa lipatan karena baru dikeluarkan oleh bank ini lebih menarik hati dan mata mereka yang memang hobi mencari galak gampil. Lagipula, filosofinya uang baru akan membawa semangat baru bagi mereka yang menerimanya.

Kebiasaan memberi galak gampil dengan uang baru iniakhirnya memberikan lahan bisnis baru bagi sebagian orang. Mereka yang punya modal besar, buru-buru menukarkan uang lamanya dengan uang baru ke bank-bank yang telah direkomendasikan oleh Bank Indonesia. Lembaran-lembaran uang baru itu kemudian dikemas sedemikian rupa dalam beberapa paket. Mereka lantas membuka lapak-lapak yang menawarkan jasa penukaran uang. Dengan biaya mulai dari lima ribu hingga sepuluh ribu rupiah, masyarakat sudah bisa mendapatkan segepok uang baru dengan berbagai pecahan.

Mendapatkan galak gampil dari kakek-nenek, bapak-ibu, paman-bibi, atau mereka yang lebih dewasa selalu menjadi harapan anak-anak di hari lebaran. Dari keluarga dekat, biasanya minimal uang dengan nominal dua puluh ribu bakal dikantongi. Biasanya, hal ini mudah dilakukan, terutama bagi anak-anak yang mudah merayu.

Sementara dari tetangga, biasanya paling tidak anak-anak akan mendapatkan uang minimal lima ribu rupiah per rumah. Hal ini biasanya lebih sulit ketimbang mencari galak gampil dari keluarga dekat, karena tak semua tetangga menyediakannya. Namun, dengan kesabaran duduk di rumahnya sambil menghabiskan kue lebarannya, mungkin si tetangga ini akan mengerti dan akhirnya memberi galak gampil yang diinginkan.

Jika ditelateni dengan ‘rajin’, maka uang hasil ini bakal terkumpul banyak. Pengalaman pribadi penulis, selama satu bulan di bulan Syawal saja, nominalnya bisa dipakai membeli Nintendo dan banyak mainan lainnya. Sebagai anak usia SD, di tahun ’90-an tentu sungguh membanggakan bisa membeli mainan dari hasil ‘keringat sendiri’.

Share :