Image

okezone.com

Back to Okezone
  • Ngobrol
  • Lounge
  • Melihat Makam Guru Patimpus, Sang Pendiri Kota Medan
5 July 2018 16:39 WIB #1
237 1 Bookmark
Join Date: 7 October 2014
Post: 5

Melihat Makam Guru Patimpus, Sang Pendiri Kota Medan

Content Image

MEDAN – Kota Medan genap berusia 428 tahun pada 1 Juli 2018 lalu. Sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia, pembangunan pun semakin menjadi-jadi di ibukota Provinsi Sumatera Utara itu.

Gedung-gedung pencakar langit kini gagah berdiri di pusat kota. Sementara di pinggiran, makin sesak dengan pemukiman warga. Jalanan penuh dengan kenderaan. Hampir tak ada yang tak macet saat pagi dan sore hari.

Satu imagi kota yang mungkin tak terbayangkan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi, saat mendirikan kota itu pertama kali di tahun 1590 lalu.

Guru Patimpus adalah seorang laki-laki yang berasal dari dataran tinggi Karo. Ia merantau ke tanah Deli dan mendirikan kampung di kawasan yang kini disebut sebagai kampung lama. Kawasan itu dulunya merupakan bagian dari Kerajaan Sepuluh Dua Huta, yang kini menjadi bagian dari Kecamatan Hamparan Perak, Deliserdang, Sumatera Utara.

Tak lama berada di tanah Deli, Guru Patimpus yang awalnya beragama Pemena, kemudian masuk Islam dan menikahi seorang putri raja melayu dari Kerajaan Pulo Brayan. Mereka lalu membuka kampung di kawasan hutan antara Sungai Deli dan Sungai Babura yang belakangan menjadi Kampung Medan.

Setelah berusia lanjut dan ditinggal sang istri, Guru Patimpus kemudian kembali ke Kampung Lama hingga akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan disana.

Lalu bagaimana kondisi makam sang pendiri kota Medan itu ditengah hingar bingar Medan sebagai kota metropolitan ? Jawaban akan sangat memilukan.


Content Image

Untuk Menuju Makam Guru Patimpus, Pejiarah Harus Melewati Jalan Kebun Milik Warga (wahyudi)

Makam Guru Patimpus berada di sebuah perladangan milik warga di Dusun III, Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak, Deliserdang, Sumatera Utara. Sekitar 25 kilometer dari Lapangan Merdeka Medan, yang merupakan titik nol Kota Medan saat ini.

Content Image

Makam Guru Patimpus, Berada di Tengah Kebun Milik Warga (wahyudi)

Tak selayaknya makam seorang yang bersejarah, makam Guru Patimpus hanya seperti makam di tempat pemakamam umum, yang hanya terdiri dari gundukan tanah yang di atasnya disusun cetakan batu kuburan dan sebuah nisan tanpa nama.

Content Image

Bentuk Makam Guru Patimpus Setelah Dipugar (wahyudi)

Makam tersebut berbentuk seperti itu sejak dipugar oleh Karang Taruna lewat Bulan Bakti Karang Taruna Sumatera Utara di tahun 2017 lalu. Sebelumnya, makam itu hanya terdiri dari gundukan tanah.

“Sebelumnya ada nisan di kuburan tersebut. Namun nisan itu dicuri oleh orang tidak bertanggungjawab,”kata Rian Sulaiman, Ketua Karang Taruna, Kecamatan Hamparan Perak, Rabu (4/7/2018).

Content Image
Makam Guru Patimpus Dikelilingi Pagar Besi (wahyudi)

Sulaiman mengaku tak pernah ada perhatian dari pemerintah atas makam Guru Patimpus. Padahal sejumlah upaya sudah mereka lakukan agar lokasi makam bisa dijadikan sebagai cagar budaya.

“Kami sudah punya cukup data dan literature atas keaslian makam itu. Bahkan ada saksi yang pernah memberikan keterangan kepada kami. Sayangnya beliau sudah mangkat tiga tahun lalu. Kami pun sudah melakukan symposium dan sudah menyampaikannya kepada pemerintah. Tapi sampai hari ini tidak ada tindak lanjut. Termasuk dari Badan Arkeologi. Mereka hanya melakukan pendataan dan tanpa tindak lanjut. Sehingga akhir kami yang bergerak sendiri memugarnya,”tukasnya.

Sulaiman menceritakan, keberadaan makam Guru Patimupus Sembiring Pelawi ini kita ketahui berdasarkan tradisi lisan turun temurun dari orang-orang tua mereka yang pertama kali membuka kampung di sana. Kampung tersebut dulunya bernama kampung lama, kampung yang pertama ada Urung Sepuluh Dua Huta, Hamparan Perak, yang berdekatan dengan aliran Sungai Belawan.

“Tahun 1980-an dulu, masyarakat biasanya menandai makam ini dengan adanya batu nisan di dua sisi dan ada dua pohon besar di dekat makam. Yakni pohon cempedak hutan dan halbana. Halbana mati sedangkan cempedak tumbuh besar. Selain itu sudah biasa orangtua kita jaman dahulu mengatakan, bahwa makam keramat yang ada di bawah pohon itu adalah pendiri Kota Medan, Guru Patimpus,”tukasnya.

Sulaiman menyebutkan, sejak 2011 lalu mereka sudah menyampaikan agar makam Guru Patimpus direvitalisasi. Mereka juga telah membuat simposium kolosal yang mengundang akademisi dari sejumlah universitas di Sumatera Utara, pemangku Kesulatanan Serdang dan juga Dinas Pariwisata Kota Medan maupun Dinas Pariwisata Sumatera Utara.

“Harapan kita, ini sebagai poros peradaban, peninggalan luar biasa yang harus kita lestarikan. Ada atau tidak yang peduli dengan situs ini, kami tetap berupaya semampu kami. Kita ingin ini dapat dilestarikan untuk menjadi pembelajaran untuk anak cucu kita,”pungkasnya.

Content Image
Sulaiman, Ketua Karang Taruna Hamparan Perak yang Mengelola Makam Guru Patimpus (wahyudi)

Selain makam Guru Patimpus, ada dua bangunan lagi yang berhubunegan dengan Guru Patimpus. Yakni Rumah Tinggi yang berada di Jalan Besar Hamparan Perak, serta peninggalan dermaga besar hadkerajaan aru Kota Rentang.

“Kita ingin peninggalan ini dapat dilestarikan untuk menjadi pembelajaran untuk anak cucu kita. Karena sekarang saja, kami sangat sulit mencari benang merah sejarah ini. Apalagi nanti anak cucu kita,”tukasnya.

"Fakta sejarah ini harus kita angkat ke permukaan. Berat memang. Tapi kalau kita bersatu, batang terendam pun bisa kita angkat,”tandasnya.


Pemuda Merga Silima Bentuk Pokja Pemugaran Situs Guru Patimpus

Organisasi masyarakat (ormas) Pemuda Merga Silima (PMS) Kota Medan telah menginisiasi pemugaran atas makam Guru Patimpus. Makan tersebut nantinya akan dijadikan sebagai situs cagar budaya.

Ketua DPD PMS Kota Medan, Isra Sembiring Meliala mengatakan, pemugaran harus dilakukan sebagai penghargaan terhadap sang pendiri Kota Medan. Apalagi saat ini kondisi makam sangat memprihatinkan dan menumpang di tengah perladangan milik warga.

“Kondisi situs ini sangat memprihatinkan. Kita menyayangkan Pemko Medan tidak merawat situ ini. Tidak menghargai jasa orangtua kita pendiri kota ini,”kata Isra saat berjiarah ke makam Guru Patimpus dalam rangka merayakan HUT Kota Medan ke-428 bersama puluhan kader PMS se-Kota Medan, Rabu (4/7/2018).

Content Image
Ketua Pemuda Merga Silima, Isra Meliala Saat Berjiarah ke Makam Guru Patimpus (wahyudi)

Sebagai langkah nyata pemugaran situs tersebut, lanjut Isra, mereka akan membentuk kelompok kerja (pokja) yang terdiri dari kader PMS, Partai Perindo, warga masyarakat Hamparan Perak serta pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian atas situs Guru Patimpus.

Pokja ini nantinya akan bekerja mempercepat realisasi pemugaran agar dapat dilakukan pada tahun 2019 mendatang. Mulai dari pencarian informasi sejarah situs tersebut, hingga mengawal rencana pemugaran itu agar menjadi kebijakan Pemerintah Kota Medan.

Content Image
Pemuda Merga Silima, Perindo dan Karang Taruna Sepakat Membentuk Pokja Pemugaran Makam Guru Patimpus (wahyudi)

"Siteplannya akan kita perbaiki semuanya. Makamnya sendiri, akses masuknya serta penunjuk arah dan fasilitas lainnya. Mudah-mudahan di DPRD nanti bisa menerima ini dengan baik. Ini lah kelemahan Pemko Medan selama ini. Selama ini ditelantaran. Padahal kalau situs ini dipelihara menjadi situs sejarah, maka akan sangat baik untuk pengetahuan anak-anak kita maupun pendapatan masyarakat di sini,”tandasnya.

Kader Pemuda Merga Silima, Budianta Tarigan menegaskan, Pemerintah Kota Medan harus ikut andil dalam melestarikan makam Guru Patimpus. Meski makam tersebut berada di wilayah Kabupaten Deliserdang, namun sudah menjadi tanggungjawab Pemerintah Kota Medan untuk merawat makam tokoh pendiri kota yang mereka perintah saat ini.

“Pemko harus melestarikan situs ini. Karena ini mengandung nilai sejarah yang harus diketahui masyarakat, khususnya warga Kota Medan. Karena bagaimana pun, bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menghargai nilai sejarahnya. Kita sebagai putra karo merasa sangat miris. Hal itu karena hari ini kita melihat penemu Kota Medan yang kita anggap sangat bersejarah, tapi perhatian dari Pemko Medan justru sangat kurang,”sebut Budi


Content Image
Budianta Tarigan (wahyudi)

Budi yang juga merupakan Wakil Ketua di Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Sumatera Utara itu pun mengaku jika partainya siap memperjuangkan agar revitalisasi makam Guru Patimpus dapat direalisasikan menjadi program pemerintah Kota Medan maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Perjuangan itu akan ia lakukan lewat jalur politik di parlemen.

"Kita akan perjuangkan baik lewat DPRD Sumut maupun DPRD Kota Medan. Ini harus terealisasi,"tegas Budi.


Content Image
Kader Pemuda Merga Silima Berdoa di Makam Guru Patimpus (wahyudi)

Makam Guru Patimpus berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Medan. Untuk sampai ke lokasi, pejiarah harus melewati jalan desa sejauh 2 kilometer dan masuk ke perkebunan milik warga.

Tak ada penunjuk arah, tanda apalagi fasilitas apapun di sekitar situs tersebut. Kondisi di sekitar makam sang pendiri Kota Medan, jauh dari imagi kita akan Kota Medan yang telah menjadi kota Metropolitan.
Share :
6 July 201804:28 WIB #2
Join Date: 22 March 2018
Post: 2938

Susah nonton Piala Dunia 2018 dari PC / Laptop?
atau
Nonton Piala Dunia 2018 tapi delaynya lama..

Gampang.. tinggal ikuti langkah ini, tiap hari tinggal login ID dan nonton sepuasnya dah...
- ketik link buka-situs.com
- setelah itu masukkan link bumi21.com
- Tekan Daftar dan isi sesuai keterangan yang diminta.. (gak ada rekening? Asal isi aja..)
- Sesudah daftar, Login dan pilih daftar game 368bet..

Kurang mengerti, bisa dibantu dari LiveChat Bumi21 lho...
Buruan yang mau nonton, mumpung lagi pertandingan fase grup..


Content Image